zeinkalaami

sekedar berbagi pengalaman dan informasi

Arsip untuk ‘Renungan’ Kategori

Hari valentine, Manfaat Atau Madharat?

Posted by zeinkalaami pada 8 Februari 2009

Hari Valentine, Manfaat Atau Madharat?

sudah memasuki Bulan Pebruari, ada sesuatu yang beda. Coba Anda perhatikan dengan program-program acara di televisi yang mulai mempromosikan acara-acara bernuansa cinta dan romantisme. Coba sabangi pula outlet-outlet dan took penjual bunga yang semakin menambahkan stok bunga dagangannya dengan berbagai jenis dan ukuran. Belum lagi toko-toko penjual cokelat yang mulai membuat berbagai bentuk symbol-simbol kasih sayang.

sudah mafhum bahwa semua itu berkaitan dengan akan datangnya Hari Valentine yang (katanya) merupakan Hari Kasih Sayang dunia. Hari special yang mengingatkan akan sejarah pengorbanan Santo Valentine, seorang Kristen Roma yang rela mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan keyakinan dan pembelaannya terhadap cinta dan kasih sayang.

Hari yang diangggap special oleh kebanyakan kaum muda (terutama yang sedang terlibat asmara) ini, di satu sisi memberikan andil positif jika dikaitkan dengan motif ekonomi. Para penjual bunga, cokelat, pernak-pernik Valentine menjadikan bulan ini sebagai bulan berkah, karena mereka akan sedikit banyak memperoleh penghasilan yang lebih dari hari biasanya. Sikap konsumtif pencinta Valentine secara drastis mendongkrak laba para penjual bunga, cokelat dan pernak-pernik Valentine yang diserbu para pembeli. Apalagi para penjual meyakini bahwa para penyambut Hari Valentine cenderung bertambah terutama kalangan anak remaja atau kaum muda.

Di satu sisi, keperihatinan terhadap prilaku remaja (terutama yang sedang mabuk asmara) yang cenderung “salah” dalam mengekspresikan rasa kasih sayang kepada kekasihnya. Pemberian bunga, cokelat atau pernak-pernik sebagai symbol kasih sayang oleh pasangannya terkadang diterima dan diganti dengan cara berlebihan, jauh dari sekedar cokelat atau seikat bunga. Pengekspresian kasih sayang yang berlebihan, justru akan merusak makna dari kasih sayang itu sendiri. Sebab, saat kasih sayang ditransfer dengan makna yang berbeda dan bernuansa melawan norma, maka selalu ada provokator abadi, Syaetan, yang senantiasa mensupport siapa saja yang punya niat merusak norma dan keimanan.

Ditulis dalam Renungan | 1 Komentar »

Tragedi Gaza

Posted by zeinkalaami pada 6 Februari 2009

Realita di Balik Serangan Gaza

Selama 22 hari serangan brutal Zionis Israel terhadap rakyat Palestina, sepertinya tentara zionis itu terus saja menampakkan ancaman serangan haus darahnya ke Jalur Gaza. Korban rakyat Palestina sudah mencapai 1.300 jiwa syahid dan 5.000 lebih luka-luka. Jumlah yang fantastis untuk sebuah pembalasan serangan roket pejuang Hamas yang jarang menimbulkan korban jiwa. Belum lagi kerusakan infrastruktur yang ada di Gaza, yang turut diluluhlantakan dengan bom-bom tak bermata dan sangat tidak cerdas dalam memilih sasaran korbannya.

Ini jelas tragedy kemanusiaan yang sangat nyata. Ini bukan sekedar pembalasan, tapi sudah genosida atau holocaust Timur Tengah yang sedang diperankan oleh penjajah Zionis. Alih-alih ingin melindungi diri dari serangan roket pejuang Hamas, Israel malah membalas lemparan batu dengan meriam. Benar jika perang kali ini sungguh tidak proporsional.

Alasan Klasik

Kepada media dunia termasuk kepada PBB, Israel selalu beralasan bahwa serangannya ke Israel adalah jawaban atas kiriman roket-roket pejuang Hamas selama ini. Israel mengatakan bahwa serangan roket pejuang Hamas menjadi terror yang harus segera dihentikan. Tanpa mau membandingkan akibat kerusakan dan korban jiwa akibat serangan roket pejuang Hamas, Israel menjadikan alasan tersebut sebagi pembenar aksi barbarnya terhadap penduduk Gaza. Jika mau membalas secara adil, tidak perlu memboyong puluhan ribu tentara, ratusan tank dan berton-ton bom dan rudal. Ini membuktikan bahwa rakyat dan pemerintah Israel sudah dalam situasi ketakutan yang berlebihan. Mengerahkan kekuatan penuh seolah yang mereka hadapi adalah musuh yang sangat besar.

Tes dan Unjuk Kekuatan

Israel dikenal sebagai negara yang memiliki senjata modern dan canggih. Anak kesayangan Amerika ini selalu dinomorsatukan oleh Amerika untuk mendapatkan akses senjata bahkan yang terlarang sekalipun. Jika Negara lain diberikan ketentuan yang ketat dengan syarat-syarat yang berat, Israel justru tinggal memilih saja senjata mana yang diinginkan. Jika Negara lain diancam embargo jika dianggap disalahgunakan untuk kegiatan melanggar HAM, Israel justru ditawari untuk dapat digunakan mencabik-cabik HAM di bumi Palestina. Dengan senjata mutakhir yang melimpah dan modern, sepertinya Israel harus menguji kemampuan senjatanya. Celakanya, Palestinalah yang dijadikan areal latihan dan uji tempur mesin perangnya, bukan di sebuah pulau kosong, seperti yang dilakukan negara lain pada umumnya. Bagi Israel, barangkali inilah tempat yang paling cocok, efisien, dekat dan kebetulan musuh bebuyutan.

Misi Sesungguhnya

Alasan yang dikemukakan oleh Israel, sepertinya membuat dunia ragu untuk mempercayainya (kecuali sahabat-sahabat dekatnya) jika melihat cara berperang Israel yang terkesan tak punya control kemanusiaan itu. Sepertinya,Israel sedang tidur ketika PBB mengeluarkan Resolusi PBB dijatuhkan untuk segera menghentikan serangannya ke Jalur Gaza. Kedunguan dan sikap keras kepala Israel ini semakin menguatkan spekulasi dunia bahwa Israel ingin menguasai kembali Jalur Gaza yang pernah didudukinya. Kalau ini benar adanya, maka Israel takkan berhenti walaupun ribuan resolusi PBB ditelurkan. Skenario Israel untuk menguasai kembali jalur Gaza jelas, yaitu menghentikan pengaruh pejuang Hamas jika perlu dihancurkan hingga tak tersisa. Hanya saja, Israel dari awal penyerangan hingga detik ini tak pernah bisa untuk menyisakan rasa kemanusiaan dalam hati pemegang kekuasaan dan kebijakan walau sedikitpun. Anak-anak, perempuan, petugas medis, wartawan bahkan kalau perlu mayat dikuburpun akan dibunuhnya demi mencapai ambisinya. Wallahu A’lam.

Ditulis dalam Renungan | Bertanda: , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tragedi Gaza II

Posted by zeinkalaami pada 30 Januari 2009

Realita di Balik Serangan Gaza

Selama 22 hari serangan brutal Zionis Israel terhadap rakyat Palestina, sepertinya tentara zionis itu terus saja menampakkan ancaman serangan haus darahnya ke Jalur Gaza. Korban rakyat Palestina sudah mencapai 1.300 jiwa syahid dan 5.000 lebih luka-luka. Jumlah yang fantastis untuk sebuah pembalasan serangan roket pejuang Hamas yang jarang menimbulkan korban jiwa. Belum lagi kerusakan infrastruktur yang ada di Gaza, yang turut diluluhlantakan dengan bom-bom tak bermata dan sangat tidak cerdas dalam memilih sasaran korbannya.

Ini jelas tragedy kemanusiaan yang sangat nyata. Ini bukan sekedar pembalasan, tapi sudah genosida atau holocaust Timur Tengah yang sedang diperankan oleh penjajah Zionis. Alih-alih ingin melindungi diri dari serangan roket pejuang Hamas, Israel malah membalas lemparan batu dengan meriam. Benar jika perang kali ini sungguh tidak proporsional.

Alasan Klasik

Kepada media dunia termasuk kepada PBB, Israel selalu beralasan bahwa serangannya ke Israel adalah jawaban atas kiriman roket-roket pejuang Hamas selama ini. Israel mengatakan bahwa serangan roket pejuang Hamas menjadi terror yang harus segera dihentikan. Tanpa mau membandingkan akibat kerusakan dan korban jiwa akibat serangan roket pejuang Hamas, Israel menjadikan alasan tersebut sebagi pembenar aksi barbarnya terhadap penduduk Gaza. Jika mau membalas secara adil, tidak perlu memboyong puluhan ribu tentara, ratusan tank dan berton-ton bom dan rudal. Ini membuktikan bahwa rakyat dan pemerintah Israel sudah dalam situasi ketakutan yang berlebihan. Mengerahkan kekuatan penuh seolah yang mereka hadapi adalah musuh yang sangat besar.

Tes dan Unjuk Kekuatan

Israel dikenal sebagai negara yang memiliki senjata modern dan canggih. Anak kesayangan Amerika ini selalu dinomorsatukan oleh Amerika untuk mendapatkan akses senjata bahkan yang terlarang sekalipun. Jika Negara lain diberikan ketentuan yang ketat dengan syarat-syarat yang berat, Israel justru tinggal memilih saja senjata mana yang diinginkan. Jika Negara lain diancam embargo jika dianggap disalahgunakan untuk kegiatan melanggar HAM, Israel justru ditawari untuk dapat digunakan mencabik-cabik HAM di bumi Palestina. Dengan senjata mutakhir yang melimpah dan modern, sepertinya Israel harus menguji kemampuan senjatanya. Celakanya, Palestinalah yang dijadikan areal latihan dan uji tempur mesin perangnya, bukan di sebuah pulau kosong, seperti yang dilakukan negara lain pada umumnya. Bagi Israel, barangkali inilah tempat yang paling cocok, efisien, dekat dan kebetulan musuh bebuyutan.

Misi Sesungguhnya

Alasan yang dikemukakan oleh Israel, sepertinya membuat dunia ragu untuk mempercayainya (kecuali sahabat-sahabat dekatnya) jika melihat cara berperang Israel yang terkesan tak punya control kemanusiaan itu. Sepertinya,Israel sedang tidur ketika PBB mengeluarkan Resolusi PBB dijatuhkan untuk segera menghentikan serangannya ke Jalur Gaza. Kedunguan dan sikap keras kepala Israel ini semakin menguatkan spekulasi dunia bahwa Israel ingin menguasai kembali Jalur Gaza yang pernah didudukinya. Kalau ini benar adanya, maka Israel takkan berhenti walaupun ribuan resolusi PBB ditelurkan. Skenario Israel untuk menguasai kembali jalur Gaza jelas, yaitu menghentikan pengaruh pejuang Hamas jika perlu dihancurkan hingga tak tersisa. Hanya saja, Israel dari awal penyerangan hingga detik ini tak pernah bisa untuk menyisakan rasa kemanusiaan dalam hati pemegang kekuasaan dan kebijakan walau sedikitpun. Anak-anak, perempuan, petugas medis, wartawan bahkan kalau perlu mayat dikuburpun akan dibunuhnya demi mencapai ambisinya. Wallahu A’lam.

Ditulis dalam Renungan | Tinggalkan sebuah Komentar »

Tragedi Gaza I

Posted by zeinkalaami pada 30 Januari 2009

Tragedi Gaza, Sebuah Rekayasa

Tahun baru ini (1430 H), sepertinya menjadi tahun baru terburuk bagi penduduk Gaza (Palestina). Betapa tidak, di tengah kaum muslimin yang lain sedang bersiap menyambut kedatangan tahun baru dengan suka cita dan mempersiapkan berbagai acara, penduduk di Jalur Gaza justru sedang panik dengan suasana yang penuh teror. Gedung-gedung hancur, jalanan penuh dengan pung-puing dan genangan darah para korban pengeboman serta rumah sakit dipenuhi dengan mayat dan korban luka-luka berat dan ringan. Pemandangan mengerikan ini berlangsung sejak sabtu (27/12) kemarin. Jika ditanya siapa penyebab kekacauan, kehancuran dan terror ini, jawabannya (tentu) sepakat, sang agresor negara zionis Israel.
Serangan yang dilancarkan kepada penduduk Jalur Gaza, siapapun yang menyaksikan, adalah serangan yang sangat tidak terarah dan terkesan tidak professional. Serangan dengan senjata dan peralatan militer super canggih yang katanya dimiliki negara zionis itu tampaknya tidak secerdas apa yang kita perkirakan. Banyaknya korban jiwa dari kalangan sipil, perempuan dan anak-anak ( yang jelas seharusnya bukan target mereka) karena mereka selalu memberi alasan penyerangan untuk membunuh para pejuang Hamas, jelas membuktikan ketidakpintaran peralatan perang mereka. Di tambah dengan fasilitas umum yang seringkali menjadi target serangan, jelas membuktikan ketidaakuratan alat pendeteksi perang mereka, karena tidak bisa membedakan mana fasilitas militer (yang harus dihancurkan) dan mana fasilitas umum (yang mestinya dilindungi).
Jika tetap berdalih bahwa fasilitas perang mereka supercanggih, berarti penghancuran total tanpa memilih target seperti itu adalah sebuah kesengajaan. Jika ini suatu kesengajaan, maka jelas praktek perang tak terukur itu sebagai sebuah pelanggaran dalam peperangan pada saat ini. Praktek penyerangan terhadap target yang mestinya tak dilibatkan dalam perang seperti rakyat sipil, gedung-gedung pemerintahan, fasilitas ibadah, dan fasilitas umum membuktikan bahwa serangan Israel kali ini (dan juga sebelumnya) adalah memang bertujuan menghancurkan kota dan penduduk gaza terutama kelompok pejuang Hamas sebagai aksi pembungkaman atas perjuangan mereka (Hamas) selama ini terhadap Israel.
Jika dalih Israel sebagai reaksi atas serangan roket yang dilancarkan Hamas ke pemukiman Yahudi , semestinya (kalau memang itu harus dilakukan) Israel cukup membalas roket yang jarang menimbulkan korban dan kerusakan berarti dengan sekedarnya saja. Membalas lemparan batu dengan hujanan peluru, tentulah bukan suatu yang adil, bahkan sangat tidak proporsional. Kata yang lebih tepat untuk itu adalah balasan seperti orang yang kesetanan. Atau ini adalah bukti rasa prustasi Israel yang sudah memuncak atas perjuangan Hamas yang masih terus saja berkobar walaupun harus mengorbankan jiwa pejuangnya. Rasa frustasi inilah yang membuat Israel melakukan serangan yang amburadul, tak terfokus dan membabi-buta. Memang seperti itulah biasanya psikologi orang yang sedang prustasi, melakukan sesuatu tanpa disertai nalar dan fikiran layaknya orang sehat. Juka ini yang terjadi, Israel saat ini sudah mendekat (atau sudah) menderita sakit jiwa.
Jika itupun bukan jawabannya, maka sudah dipastikan ini adalah sudah watak dari Israel sebagai sebuah negara. Watak yang jauh dari terpuji. Jika betul ini watak dari sebuah negara, maka Israel adalah negara dengan predikat terburuk dalam segala hal. Banyak bukti-bukti yang menguatkan keburukan Israel sebagai sebuah Negara berdasarkan sejarah mulai keberadaannya (yang masih diragukan), sejarah peperangannya (mulai perang Israel-Arab tahun 1967 sampai perang Israel–Hizbulloh,Libanon pada tahun 2006) sampai dengan pembangkangannya terhadap beberapa resolusi PBB, semuanya cukup jadi bukti bahwa Israel adalah negara yang tidak perlu dipercaya dan sesungguhnya sangat berbahaya. Satu-satunya yang menjadi kelebihan bagi Negara Israel (khususnya kaum Yahudi) adalah mereka menjadi anak emas sang bapak angkatnya, Amerika Serikat dan dunia sudah tahu itu.
Kita bersyukur, Indonesia sebagai negara yang menentang segala bentuk penjajahan, seperti yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, tidak melakukan hubungan (apapun?) dengan Israel. Itu artinya, sampai saat ini Indonesia masih menganggap bahwa Israel adalah negara penjajah yang mencoba merampas tanah dan hak-hak bangsa Palestina yang merdeka. Hanya saja untuk negara yang satu ini, dunia sepertinya menganggap Israel justru sebagai negara yang harus dibela (terutama oleh Amerika dan sekutunya), dengan alasan mereka harus melindungi dari teroris (versi mereka) Hamas. Setidaknya, dunia hanya bisa duduk menonton, teater dunia yang dilakoni tiga pemeran utama, Palestina sebagai korban dan Israel ditemani Amerika sebagai pelaku antagonisnya.
Ketidakberdayaan dunia ini mungkin bagian dari politik dunia, tapi kita tetap berharap Indonesia sebagai Negara yang Insya Allah selalu komitmen dengan keberpihakannya kepada Negara Palestina, setidaknya akan senantiasa mengambil sikap yang tepat untuk selalu membela hak-hak bangsa Palestina dari tindakan perampas hak dan kebebasan, Zionis Israel. Semoga kedamaian segera tercipta untuk Palestina dan kawasan Arab serta dunia pada umumnya. Amiiin. Wallahu A’lam.

Ditulis dalam Renungan | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.